Bisnis Jamu Makin Laris Manis Saat Pandemi

penjualan jamu meningkat selama pandemi

Source: goodnewsfromindonesia.com

Bisnis jamu merupakan salah satu dari seian banyak bisnis yang tengah naik daun selama pandemi korona ini. Faktor utama yang menjadikan produk tradisional ini ramai peminat adalah khasiatnya yaitu untuk menjaga daya tahan tubuh.

Disaat banyak bisnis lain yang lesu bahkan harus bangkrut saat pandemi, bisnis jamu justru semakin eksis. Bahkan tak sedikit masyarakat yang kini beralih profesi dan membuka bisnis jamu tradisional. Salah satunya adalah Lina Tanuwijaya yang merupakan pemilik dari usaha Kawan Rempah di Jakarta.

Usaha ini baru dimulai pada bulan April lalu. Fokus dari bisnis ini adalah membuat minuman tradisional dengan bahan empon-empon atau rempah.

Lina memproduksi berbagai jenis minuman jamu tradisional. Diantaranya adalah kunyit asem, lemon sereh, sari asam, wedang jahe, bir pletok, dan juga kopi jahe. Minuman jamu ini dipatok dengan harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 65 ribu per botol sesuai dengan ukurannya.

Tak disangka omzet Lina dapat mencapai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan. Padahal, Lina hanya mengandalkan penjualan secara online. Untuk pemasaran, Lina hanya mengandalkan media sosial dan juga marketplace seperti Tokopedia. Selain itu, Lina juga menawarkan melalui GoFood.

Dampak positif ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha yang baru, Ahmad Nashran Humaidi pemilik brand Njamoe yang sudah lama menggeluti bisnis jamu jga mengungapkan bahwa pandemi dapat mendongkrak penjualan produknya hingga 50%.

Produk Njamoe merupakan jamu tradisional dalam bentuk bubuk meliputi kunyit putih, kunyit asem, jamu merah, mengkudu, temulawak, dll. Ahmad hanya mengemas produk jamu dengan label Njamoe. Sementara produk tersebut ia dapatkan dari produsen jamu rumahan di sekitar Jombang.

Sama halnya seperti Lina, Ahmad jugamengandalkan penjualan secara online untuk memasarkan produknya.

Related posts

Leave a Comment