Tingkatkan Okupansi Penumpang KAI, Pemerintah akan Subsidi Biaya Rapid Test

pemerintah akan subsidi biaya rapid test

Source: trenasia.com

Pemerintah memiliki rencana untuk memberikan subsidi biaya rapid test untuk penumpang kereta api jarak jauh. Hal ini dikarenakan tingkat okupansi penumpang KAI yang menurun. Hingga saat ini, pemerintah masih melakukan diskusi dengan PT KAI sebagai pihak pengelola.

Zulkifli selaku Direktur Jenderal perkeretaapian Kemenhub mengatakan,” Pemberian subsidi rapid test ini salah satunya untuk memberikan kepercayaan pelayanan bagi masyarakat.”

Namun, Zulkifli belum dapat mengungkapkan besaran anggaran yang akan dikeluarkan untuk subsidi biaya rapid test ini. Pihaknya tengah melakukan peninjauan terhadap stimulus yang akan diberikan. Selain subsidi rapid test, pemerintah juga mewacanakan bentuk bantuan lain kepada operator.

Bentuk bantuan lainnya adalah penambahan PSO atau Public Service Obligation dan juga pembayaran biaya operasi kereta api perintis selama semester I.

Saat ini, PT KAI tengah berupaya untuk bertahan karena turunnya tingkat okupansi penumpang KAI. Untuk itu, Kemenhub terus memastikan operasional kereta api tetap dapat berjalan saat pandemi ini.

Zulkifli menambahkan bahwa meskipun tren penambahan penumpang meningkat, namun, tingkat okupansi masih rendah. Bahkan untuk kereta api jarak jauh tingkat okupansinya kurang dari 47%.

Penambahan jumlah perjalanan kereta api sepertinya juga tidak mampu untuk meningkatkan okupansi. Kondisi ini juga terjadi pada penumpang KRL. Saat ini tingkat okupansi penumpang KRL kurang dari 30%. Padahal jumlah penumpang per gerbong telah dibatasi maksimal 74 penumpang saja.

Adanya rencana stimulus subsidi biaya rapid test ini diharapkan mampu meningkatkan okupansi penumpang Kereta Api terutama kereta api jarak jauh. Pasalnya, mungkin sebagian besar penumpang tidak memilih moda transportasi kereta api karena merasa terbebani biaya rapid test sebagai syarat untuk naik kereta api jarak jauh.

Related posts

Leave a Comment