SIG Jalankan Teknik Reklamasi Baru Di Lahan Pascatambang Tuban

teknik reklamasi sistem alur di lahan pascatambang SIG di Tuban

Source: industry.co.id

PT Semen Indonesia Tbk (SIG) mempunyai komitmen untuk melestarikan lingkungan selaras dengan menjalankan kegiatan bisnisnya. Salah satu realisasinya adalah penerapan sistem reklamasi yang ramah lingkungan pada lahan pascatambang Tuban. Teknik baru ini dikenal sebagai sistem alur. Teknik baru ini dinilai lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan teknik reklamasi konventional.

Reklamasi sistem alur diterapkan dengan cara menggali lubang memanjang yang mirip dengan parit. Lubang ini dibuat dengan ukuran dan kedalaman tertentu. Tujuan pembuatan lubang ini adalah sebagai media tanam. Jadi, SIG tidak hanya berkomitmen untuk mengolah lahan bekas tambang tetapi juga melakukan penghijauan dengan menanam pohon di bekas galian.

Musiran selaku General Manager of Mining & Raw SIG menjelaskan,”Selama ini SIG menggunakan sistem reklamasi dengan cara menutup lubang galian bekas tambang batu kapur dengan cara menutupnya dengan tanah. Namun, teknik ini kurang efisien karena membutuhkan volume tanah atau top soil yang besar.” Penggunaan sistem alur untuk reklamasi ini terbukti sangat efisien untuk mengatasi kurangnya top soil di wilayah bekas tambang batu kapur.

Musiran menambahkan, dibutuhkan tanah sekitar 3000 m3  untuk melakukan reklamasi terhadap satu hektar lahan tambang dengan cara biasa. Namun, dengan menggunakan teknik alur, kebutuhan tanah atau top soil dapat dipangkas hanya sekitar 800 m3 saja. Meskipun bisa menghemat biaya dan volume top soil, sistem alur tidak akan mengurangi kesuksesan program reklamasi. Meskipun dibilang reklamasi sistem alur masih merupakan teknik yang baru, namun tingka keberhasilan yang bisa dicapai adalah sekitar 85%. Tentunya, juga dapat menekan biaya reklamasi hingga 63%.

Musiran juga mengungkapkan bahwa lahan bekas tambang batu kapur yang telah berhasil direklamasi dapat dijadikan tempat wisata, sarana edukasi, dan daerah penghijauan. Sedangkan bekas tambang tanah liat bisa dijadikan embung atau penampung air hujan. Embung ini dapat dimanfaatkan sebagai sistem pengairan sawah bagi penduduk sekitar. Selain itu, embung ini juga bisa digunakan untuk budidaya ikan.

Saat ini, PT Semen Indonesia telah melakukan reklamasi lahan bekas tambang batu kapur dan tanah liat sekitar 271,5 hektar. Lahan pascatambang ini ditanami berbagai jenis pohon . Diantaranya adalah Pohon Jati, Flamboyan, Sengon, mahoni, Trembesi, Johar, dan Kesambi.

Related posts

Leave a Comment